Rumah Makan Dariah Margaretha Dua (Ditha Dua)

Rumah Makan Ditha Dua Fresh Sea Food Pangandaran (Rumah Makan Dariah Margaretha Dua)

Rumah Makan Ditha Dua  Fresh Sea Food Pangandaran (Rumah Makan Dariah Margaretha Dua)

Sea Food Pangandaran

rumah makan sea food pangandaran

Hidangan Laut Pantai Timur Pasar Ikan Pangandaran jlan. Talanca

Rumah Makan Ditha Dua, Rumah Makan Ditha (Dariah Margaretha), dan Kios Jambal Roti Asli Pangandaran Putra Ditha.

Bagi para pecinta wisata kuliner atau sekedar jalan-jalan ke Pantai Pangandaran, silakan mampir di Rumah Makan “Ditha Dua” fresh Sea Food yang berlokasi di Pasar Ikan Pantai Timur Pangandaran jalan Talanca, berlokasi di dekat Pantainya.

Kami menyediakan aneka menu hidangan laut segar seperti Ikan Bawal Panggang, Cumi-cumi Goreng Tepung, Udang Saus Tiram, Kepiting Rebus, Jambal Roti dan Terasi Udang Asli Pangandaran…. untuk minumannya didukung oleh Es Kelapa Muda Asli Pangandaran.

Soal harga ga usah kuatir. Kami siap melayani anda dengan harga yang sesuai dengan rumah makan lainnya. Kami juga menerima pesanan untuk Rombongan dan Katering, juga melayani Tamu-tamu Wisata baik Pelancong lokal maupun manca negara (Turis)

Bagi yang berminat silakan hubungi ke alamat email jonimadis_02@yahoo.com/ Phone 081313763743.

Catatan: Bagi yang mengirim pesan ke alamat email mohon kirim pula pesan sms ke nomor tersebut di atas sebagai konfirmasi. (Rumah makan Sea food Pangandaran).

Sumber : http://www.mypangandaran.com/iklanwarga/detail/global/40/rumah-makan-ditha-dua–fresh-sea-food-pangandaran-rumah-makan-dariah-margaretha-dua.html

Hormat Kami

Joni Madis & Atisah

Rumah Makan Ditha Dua Pangandaran

Pangandaran Surga di Selatan Pulau Jawa

Pasir Putih Cagar Alam Pangandaran

Pasir Putih Cagar Alam Pangandaran

Jum’at, 13 Januari 2012 14:25 WIB | Dibaca 417 kali

Pangandaran Surga di Selatan Pulau Jawa

AWAL 2012, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merilis 15 tujuan wisata yang akan menjadi kuda hitam di tahun ini. Sekarang kita akan mengulas masing-masing destinasi untuk menjadi panduan Anda bila ingin mengunjungi ke-15 tempat indah tersebut.Salah satu destinasi yang disasar adalah Pangandaran. Pangandaran adalah sebuah kota kecil di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Pangandaran terletak di garis pantai selatan Pulau Jawa. Keunggulan utama Pangandaran adalah pantainya yang indah, sebut saja Pantai Pasir Putih Pangandaran, Pantai Batu Hiu, dan Batu Karas.

“Pantai Pasir Putih cocok untuk wisata keluarga dan anak-anak, tapi untuk anak muda dan remaja, lebih pas kalau ke Batu Karas,” tutur Dini (25), wisatawan yang sempat berkunjung ke Pangandaran , Kamis (12/1/2011).

Menurut Dini, Batu Karas adalah pantai di Pangandaran yang masih sepi wisatawan. “Batu Karas belum banyak didatangi wisatawan, mungkin karena lokasinya yang cukup jauh dari Pantai Pasir Putih Pangandaran,” tambahnya.

Jarak dari Pangandaran ke Batu Karas mencapai 1 jam perjalanan menggunakan alat transportasi ojek. Meskipun jauh, pemandangan indah Pantai Batu Karas membuat lelah segala hilang. Pantainya landai, dengan air laut biru yang tenang dan cukup sepi dari wisatawan. Di sekitar pantai terdapat warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman ringan. Di sekitar Batu Karas juga terdapat banyak pondok penginapan dengan harga yang terjangkau.

“Kalau mau lebih sepi lagi, tinggal jalan sedikit menuju Pantai Batu Hiu, di situ benar-benar nyaris tidak ada orang,” ujarnya. “Dari Batu Karas menuju Pantai Batu Hiu harus trekking lagi kira-kira selama 20 menit,” lanjutnya.

Jalur trekking menuju Pantai Batu Hiu cukup menantang karena meliputi jalur menaiki bukit dan menuruni lembah. Pantai ini dinamakan Batu Hiu karena ada batu yang terlihat di laut pantai ini menyerupai sirip ikan hiu. Untuk dapat melihatnya, Anda bisa naik bukit kecil sambil merasakan hembusan angin laut dan menikmati pemandangan samudra yang luas.

Selain wisata pantai, ada juga atraksi tak kalah menarik di Pangandaran, yaitu Green Canyon. “Untuk menuju Green Canyon, kita harus naik perahu dari muara Sungai Cijulang, dilanjutkan body rafting menuju dermaga obyek wisata Green Canyon tersebut,” tuturnya. “Nanti saat sampai di Green Canyon, ada batu setinggi 7 meter bernama batu payung, di mana kita dapat meloncat dari atasnya menuju Sungai Cijulang,” tambahnya.

Wisata Green Canyon cocok untuk wisatawan yang suka aktivitas pemacu adrenalin. Namun sebaiknya, mengunjungi Green Canyon tidak pada musim hujan karena debit air Sungai Cijulang akan tinggi dan airnya cenderung menjadi kecoklatan.

Begitu banyak wisata menarik di Pangandaran. Namun sayang, hal ini tidak didukung dengan transportasi yang memadai menuju kawasan wisata ini. “Pantai-pantai di Pangandaran memang indah, namun saya masih akan pikir-pikir dahulu untuk mengunjungi tempat wisata ini lagi karena perjalanan yang ditempuh cukup melelahkan,” sahut Putry (22), salah seorang wisatawan Pangandaran lainnya.

“Dari terminal Kampung Rambutan, saya harus ganti bis lagi di Sukabumi atau Banjar menuju Pangandaran. Perjalanannya sekira 9-12 jam,” keluhnya.

Ia menyarankan, transportasi menuju Pangandaran sebaiknya diperbanyak, juga dibuka jalur-jalur jalan yang baru agar waktu perjalanan yang ditempuh tidak terlalu melelahkan.

“Namun memang, keindahan pasir putih di pantai-pantai Pangandaran serta akomodasinya yang murah menjadi nilai tambah, disamping kekurangan transportasinya tersebut,” tambah Putry.

Ia menukaskan, di sekitar Pangandaran terdapat banyak penginapan dengan harga murah dan fasilitas yang lengkap. “Dengan harga Rp100 ribu per malam saja sudah dapat kamar yang nyaman,” jelasnya.

Selain Pangandaran, 14 destinasi yang menjadi unggulan di 2012 antara lain Sabang, Toba, Kota Tua-Jakarta, Tanjung Puting, Bromo-Tengger-Semeru, Batur-Bali, Rinjani, Toraja, Derawan, Raja Ampat, Bunaken, Komodo-Kelimutu-Flores, Wakatobi, dan Borobudur.

Sumber OkeZone (dalam http://www.mypangandaran.com/artikel/detail/wisata-dan-kuliner/121/pangandaran-surga-di-selatan-pulau-jawa.html)

Surga Dunia Banget Di Green Canyon

Rabu, 01 Februari 2012 08:36 WIB | Dibaca 376 kali

Surga Dunia Banget Di Green Canyon

Green Canyon. Meski namanya berbau `bule`, warga Ciamis, Jawa Barat menyebutnya Cukang Taneuh alias Jembatan Tanah. Susuri kawasan ini dengan perahu dan kagumi pesona hijaunya.

Green Canyon terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Dari Pangandaran, jaraknya sekitar 31 km. Ada apa di Green Canyon? Di sana Anda dapat berperahu menyusuri sungai yang berwarna hijau toska. Bahkan di lokasi yang telah ditentukan, Anda bisa berenang melawan arus sungai berbatu-batu itu. Seru dan asyik.Begitu tiba di pintu masuk obyek wisata ini, Anda bisa langsung membeli tiket perahu. Rp 75 ribu untuk satu perahu yang mampu menampung 5 penumpang. Jika Anda kebetulan datang berlima, tentu harga sewa perahunya menjadi lebih murah, karena biayanya ditanggung berlima.Penumpang naik perahu dari dermaga, tak jauh dari loket tiket. Lalu pengemudi perahu dan asistennya akan memandu penumpang menyusuri sungai yang merupakan bagian dari Sungai Cijulang ini. Di kanan dan kiri sungai terdapat pepohonan yang rindang menghijau. Pemandangan ini membuat adem mata yang lelah dengan suasana kota.Disarankan untuk datang ke lokasi ini pada saat musim kemarau. Sebab di musim hujan biasanya arus cukup besar dan terkadang warna air sungai menjadi keruh kecokelatan.

Tak hanya itu, dalam perjalanan yang memakan waktu 30-45 menit itu, pengunjung dapat melihat air terjun kecil. Juga dinding batu terjal, stalaktit dan stalakmit, serta batu-batu besar mirip gua yang telah runtuh di sepanjang sungai. Menakjubkan. Jika beruntung, Anda juga bisa melihat biawak di pinggir sungai yang sedang berjemur.

Setelah perahu menempuh jarak sekitar 3 km dan sampai di `terminal`, penumpang ditawari oleh pemandu untuk berenang melawan arus sungai atau langsung kembali ke dermaga. Meski berenang melawan arus, namun kegiatan ini dipastikan aman. Bahkan bagi yang tidak bisa berenang sekalipun. Dari GriyaWisata

Jika ingin berenang, maka penumpang dipersilakan memakai pelampung yang sudah tersedia di perahu. Perahu akan menunggu penumpang hingga selesai berenang. Bila ada barang-barang yang akan ditinggal di perahu, asisten pengemudi akan menjaganya. Sementara pengemudi perahu akan memandu pengunjung untuk berenang. Eit, kegiatan ini tidak cuma-cuma. Pengunjung harus merogoh kocek untuk membayar jasa pemandu ini, dan besarnya tergantung kesepakatan.

Setelah itu, byur!! Pengunjung dapat langsung berenang mengikuti si pemandu. Brr! Air sungai rupanya cukup dingin. Pemandu akan mengajak pengunjung untuk berenang dari batu besar ke batu besar lainnya. Bahkan di beberapa titik, pengunjung harus memanjat batu besar yang ada di tengah sungai. Ada beberapa ceruk dinding di sungai itu yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Di beberapa bagian pengunjung dapat menikmati `hujan abadi`. Air dari atap gua yang merupakan hasil rembesan air. Tantangan selanjutnya adalah melompat dari batu besar dengan ketinggian sekitar 5-6 meter ke lubuk yang dalam.

“Kalau sudah lompat dari batu itu, baru bisa dibilang benar-benar datang ke Green Canyon,” canda seorang pemandu.

Selain wisata perahu dan berenang, di Green Canyon pengunjung juga bisa melakukan body rafting dengan menghanyutkan diri di air. Pengunjung akan dilengkapi dengan rompi pelampung, helm dan pelindung lainnya untuk menghindari terluka akibat badan terbentur batu-batu sungai.

Menuju Green Canyon

Jika Anda tinggal di Jakarta dan ingin ke Green Canyon, Anda dapat menggunakan bus malam dari Kampung Rambutan menuju Pangandaran. Bus menuju Pangandaran ada yang ber-AC sekitar Rp 60.000 dan non-AC sekitar Rp 55.000. Dari Pangandaran, perjalanan dapat dilanjutkan dengan bus sedang atau angkutan kota jurusan Pangandaran-Cijulang.

Kemudian dari Terminal Cijulang, perjalanan ke Green Canyon dilakukan dengan menaiki ojek. Beberapa orang memilih meminta sopir angkot mengantarkannya hingga ke Green Canyon. Biasanya ongkos dari Terminal Pangandaran hingga Green Canyon sekitar 10.000.

Tempat wisata ini mulai buka pada pukul 7.30 WIB dan umumnya tutup pada pukul 16.00. Karena tidak ada ATM di sekitar Green Canyon, maka bawalah uang tunai yang cukup.

Anda tertarik `menantang` arus Green Canyon?

Sumber : http://www.mypangandaran.com/artikel/detail/wisata-dan-kuliner/124/surga-dunia-banget-di-green-canyon.html

Tugu Welcome to Pangandaran, Kenapa Jadi Warna Emas?

Jum’at, 02 Desember 2011 17:26 WIB | Dibaca 385 kali

Tugu Welcome to Pangandaran, Kenapa Jadi Warna Emas?

Kuciwa, begitu kata terlontar dari big bosku dulu untuk mengomentari sebuah hasil design terburuk yang pernah dilihat. Tiada lain alias tiada bukan, Kuciwa adalah kata plesetan dari kata KEKECEWAAN yang teramat sangat. Dulu kata aneh itu tidak terlalu mengganggu kreativitas saya, saya anggap kritikan biasa agar hasil design saya lebih baik lagi.Tapi sekarang akhirnya saya sendiri terpaksa mengatakan kata aneh itu. Setiap melintasi bunderan untuk mengantar anak ke PAUD Ar Risalah (Dusun Bojongsari Babakan) di pagi hari yang cerah, atau sejenak melepas lelah sambil menunggu giliran lampu hijau saat pulang kerja, ada yang berbeda dari penampilan tugu patung selamat datang di Pangandaran itu. Awalnya, saat mengamati renovasi tugu itu setiap hari, terlintas di benak saya akan di bangun sesuatu yang keren! atau bakalan diganti patungnya, untuk pantas dibanggakan warga pangandaran. Bahkan akan menjadi sebuah simbol, atau sekedar backround foto buat bahan upload kalo seseorang pernah ke Pangandaran dengan status; I`m here!.

Namun apa yang terjadi, Kuciwa!, Bener-bener aneh! lucu, menggelikan, “aya-aya wae!” ceuk orang Pangandaran mah. Entah apa maksudnya, tugu patung seindah itu yang awalnya juga `lumayan` karena gratifikasi dari pihak sponsor rokok, berubah 180 derajat jadi tugu emas!.Hebatlah..hebat! warga pangandaran punya tugu emas, tapi emas palsu!

Padahal kalo kita perhatikan lebih jeli dan teliti, tugu itu luar biasa dan memiliki makna yang dalam tentang pangandaran sebenarnya.Tugu itu di bangun kurang lebih 20 tahun silam saat saya masih duduk di bangku SDN 1 Pangandaran yang hanya berjarak 50m dari tugu itu. Pembuatannya hampir bersamaan dengan pembangunan jalan tol pangandaran sebagai jalan utama pintu akses menuju pantai Pangandaran pengganti pintu dekat puskesmas . Tugu dan jalan tol itu sejajar lurus seolah-olah menusuk pantai yang selalu menyambutnya dengan deru gelombang yang meraih pesisir. Waktu itu, setiap pulang sekolah saya bersama teman-teman menyempatkan diri untuk melihat tahap demi tahap proses pembangunan tugu itu yang awalnya kami kira bentuk jemari raksasa, karena saat baru datang dari truk hanya berupa 3 bentuk bulat panjang yang ada pangkalnya. Ternyata adalah calon sebuah tugu kebanggaan warga Pangandaran yang belum diukir. Tugu itu dibuat bertekstur seolah terbuat dari batu alam walau sebenarnya hanya terbuat dari fiber, untuk itulah warnanya juga di cat sedemikian rupa agar tampak kokoh dan kuat seperti batu. Dengan mengambil bentuk gelombang laut yang dahsyat seolah menjunjung tinggi tiga buah ikan segar yang meraih cita-cita di langit.

Namanya juga proyek zaman order baru, untuk memanjakan sang penguasa kala itu, jelas ikan nomor 2 berada di puncak paling tinggi (Golkar) disusul ikan nomor 1 (PPP) kemudian ikan no 3 (PDI), bener-bener Tugu yang indah!. Sedikit disayangkan di bahu lingkaran tugu tidak terdapat trotoar buat pejalan kaki untuk sekedar menyetuh dan menikmati tugu lebih dekat sekaligus foto-foto sebagai bukti otentik oleh-oleh wisatawan buat tetangga sebelah (maklum kali, saat tugu dibuat dulu blum ada hape nyang ada kodaknya…hikhikhik)

Entah idenya siapa (yang jelas bukan idenya cosmos) sekarang tugu itu berwarna emas menyala, mewah banget! seperti selera negro borjuis!, menghapus total konsep awal sebagai tugu batu alam yang sederhana.

Entah apa maksudnya, apakah pangandaran telah mengalami masa jaya keemasan?

Entah apa tujuannya, apakah gara-gara emas muda yang sedang digandrungi para PSK pangandaran?

Entah apa maunya, apakah untuk sekedar dongkrak pariwisata seperti Kubah emas di Tanggerang, Keong Emas di TMII, Segitiga Emas di Kosambi?

Entah apa inginnya, apakah karna banyak orang jawa di Pangandaran, ada Mas Maza, Mas Mus, Mas Yanto?

Entah mengapa..saya juga bingung…sekarang tugu itu namanya jadi tugu Ikan Mas, jadi lebih aneh lagi kan? baru liat ada Ikan Mas bentuknya begitu, setahu saya Ikan Mas itu seperti Gurita bisa terbang! hebat bisa terbang euy..!

Akhiranya sekarang saya dapat mengucapkan Kuciwa!!

Artikel ini merupakan Kiriman dari salahsatu Warga Pangandaran dengan inisial Dolphin untuk myPangandaran.com

Sumber : http://www.mypangandaran.com/artikel/detail/sudut-pandang-warga/117/tugu-welcome-to-pangandaran-kenapa-jadi-warna-emas.html

Pangandaran Ingin Jadi Kabupaten?

Oleh Irwan SetiawanSelasa, 04 Januari 2011 08:04 WIB | Dibaca 1.793 kali

Pangandaran Ingin Jadi Kabupaten?

Wacana Pangandaran ingin menjadi Kabupaten saat ini semakin merebak di wilayah tatar galuh Ciamis. Saya, sebagai salah satu putra kelahiran Pangandaran tentu saja menyambut dengan antusias wacana tersebut, walaupun kini saya berada jauh dari kampung halaman tercinta, namun selalu mencari tahu bagaimana situasi di Pangandaran melaui beberapa media, apalagi sekarang telah ada Web MyPangandaran.com. (terimakasih buat De Adi Sumaryadi yang telah membuat Web MyPangandaran.comsmiley).

Disini saya hanya ingin sedikit memberikan gambaran kenyataan dan kondisi Pangandaran saat ini dan mohon kepada para wakil rakyat Pangandaran agar dapat memperjuangkan  aspirasi masyarakat mengenai keinginan menjadi Kabupaten.

Menurut hemat saya, sebelum kita gencar membicarakan keinginan menjadi sebuah Kabupaten, marilah kita lihat dulu kondisi Pangandaran saat ini, dimana salah satu persyaratan menjadi kota kabupaten tentunya salah satunya adalah adanya Fasilitas Umum / Public Facility  yang lengkap dan cukup bagus sepert Rumah Sakit, Pasar, Sekolah, Terminal, Jalan dan Penerangannya dll, disamping SDM yang handal dan persyaratan lainnya

Untuk SDM, saya percaya dengan kemampuan masyarakat Pangandaran.

Namun untuk fasilitas umum saat ini, masih banyak yang harus diperbaiki dan dikembangkan, seperti misalnyaRumah Sakit, jika ingin menjadi Kabupaten, kita harus sudah punya sebuah Rumah Sakit Umum yang memadai, bukan PUSKESMAS.

Kemudian Terminal dan Jalan raya, terminal Pangandaran saat ini kalau malam tidak ada lampu penerangan (kalaupun ada tidak nyala), untuk Jalan Raya Babakan yang notabene adalah jalan gerbang menuju Pangandaran sampai saat ini tidak ada lampu jalannya.Perlu dipikirkan juga pelebaran jalan utama atau kalau bisa pembuatan jalan baru, karena setiap Liburan atau Lebaran, akses jalan menuju Pangandaran selalu Macet.

Dan masih banyak sebetulnya yang harus kita benahi terlebih dahulu untuk menuju Pangandaran menjadi kabupaten.Jadi harapan saya kepada para wakil rakyat Pangandaran, baik yang di DPRD ataupun yang duduk di pemerintahan, agar lebih fokus ke memperjuangkan dahulu pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh sebuah kota Kabupaten, daripada sibuk membuat wacana dan bicara sana-sini mengenai keinginan menjadi Kabupaten.Setelah semua fasilitas ada, barulah kita bicara dan realisasikan Pangandaran menjadi Kabupaten.

Saya khawatir, wacana tersebut justru hanya atas dasar ambisi beberapa orang yang haus jabatan dan berharap menjadi pemimpin jika Pangandaran berhasil jadi Kabupaten

Demikian, ini hanya sebatas Opini saya, sebagai salah seorang yang mencintai Pangandaran. Semoga para pemimpin dan wakil rakyat yang berjuang untuk Pangandaran menjadi Kabupaten benar-benar tulus demi memajukan dan mensejahterakan warga masyarakat Kabupaten Pangandaran nantinya.

Mari kita bersama-sama membangun Pangandaran dan wujudkan Pangandaran menjadi Kabupaten.

*Iset.

Dikirim oleh Irwan Setiawan,
Aku lahir dan besar di Pangandaran tepatnya di kampung Kalapatiga Desa Babakan, Kec. Pangandaran.

Terowongan Terpanjang Di Indonesia?

Oleh Irwan SetiawanSelasa, 06 Desember 2011 11:31 WIB | Dibaca 489 kali

Terowongan Terpanjang Di Indonesia?

Ada tiga terowongan yang  menghubungkan stasiun Banjardan Cijulang, daerah yang letaknya di Ciamis bagian selatan ini dibangun taun 1918. Masing-masing Prins Henrik Tunnel (suami Ratu Wihelmina) panjangnya 100meter, Prins Juliana Tunnel panjangnya 250 meter, dan Koningin Wihelmina. Panjang terowongan itu yaitu 1.1 kilometer, yang menjadikan terowongan ini jadi terowongan terpanjang di Pulau Jawa. Terowongan ini dahulu memiliki nama terowongan Juliana. Tetapi sebagian orang menyebutnya terowongan Wihelmina, nama dari Ratu Kerajaan Walanda. Sebagian besar terowongan yang dibangun jaman dahulu sudah tidak berfungsi lagi.

Terowongan Wilhelmina merupakan terowongan kereta api terpanjang di Indonesia. Terowongan ini memiliki panjang 1116 meter dan dibangun untuk mendukung jalur kereta api rute Banjar – Pangandaran – Cijulang (82 km). Terowongan ini berada di perbatasan antara Desa Bagolo dan Desa Emplak, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat.

Terowongan Wilhelmina dibangun oleh perusahaan kereta api SS (Staats Spoorwegen) dan dibangun pada tahun 1914 serta mulai digunakan pada 1 Januari 1921. Namun terowongan ini kemudian menjadi non aktif seiring ditutupnya jalur kereta api rute Banjar – Cijulang (82 km) pada 3 Pebruari 1981 karena mahalnya biaya operasional dan sedikitnya pemasukan dari para penumpang kereta api.

Nama terowongan diambil dari nama ratu dari Kerajaan Belanda yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Maria. Wilhelmina menjadi Ratu Kerajaan Belanda dari tahun 1890 hingga 1948. Oleh masyarakat setempat, terowongan Wilhelmina sering disebut dengan terowongan Sumber.

Pada pertengahan tahun 1990, PT Kereta Api (Persero) pernah berupaya untuk menghidupkan kembali rute Banjar – Cijulang. Selain sebagai alternatif transportasi masyarakat, juga untuk mengembangkan pariwisata di Ciamis Selatan. Saat itu ada pertimbangan bahwa perjalanan kereta api rute Banjar – Cijulang dapat dijual sebagai sebuah paket wisata.

Saat ini kondisi terowongan Wilhelmina sungguh memprihatinkan, dengan rel yang hilang dan muka terowongan yang tidak terurus, dirambati akar-akar tanaman semak belukar, semakin menghilangkan pamor dari sejarah maupun aset wisata dari terowongan terpanjang di Indonesia ini.

Dikirim oleh Irwan Setiawan,
Aku lahir dan besar di Pangandaran tepatnya di kampung Kalapatiga Desa Babakan, Kec. Pangandaran.

Cagar Alam Pananjung Pangandaran

Pasir Putih Cagar Alam Pangandaran

Pasir Putih Cagar Alam Pangandaran

BELUM lengkap rasanya jika mengunjungi objek  wisata Pantai Pangandaran bila tidak menginjakkan kaki di Taman Wisata Alam (TWA) Pangandaran atau Cagar Alam. Objek wisata cagar alam ini merupakan satu-satunya objek wisata hutan yang ada di Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Keadaan topografi sebagian besar landai dan di beberapa tempat terdapat tonjolan bukit kapur yang terjal.

Cagar alam pananjung Pangandaran memiliki kekayaan sumber daya hayati berupa flora dan fauna serta keindahan alam. Hutan sekunder yang berumur 50-60 tahun dengan jenis dominan antara lain laban, kisegel, merong , dan sebagainya. Juga terdapat beberapa jenis pohon peninggalan hutan primer seperti pohpohan kondang, dan benda . Hutan pantai hanya terdapat di bagian timur dan barat kawasan, ditumbuhi pohon formasi Barringtonia, seperti butun, ketapang.

Dengan berbagai ragam flora, kawasan TWA Pangandaran merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan satwa-satwa liar, antara lain tando, monyet ekor panjang , lutung , kalong , banteng, rusa, dan landak. Sedangkan jenis burung antara lain burung cangehgar, tlungtumpuk, cipeuw , dan jogjog. Jenis reptilia adalah biawak , tokek, dan beberapa jenis ular, antara lain ular pucuk.

Banyaknya flora dan fauna yang berkembang biak di sana merupakan daya tarik tersendiri. Tidak heran jika TWA Pangadaran tidak pernah sepi dari kunjungan para wisatawan. Selain itu, TWA ini mempunyai berbagai daya tarik lainnya, seperti Batu Kalde, salah satu peninggalan sejarah zaman Hindu. Selain itu, banyak terdapat gua alam dan gua buatan seperti Gua Panggung, Gua Parat, Gua Lanang, Gua Sumur Mudal, dan gua-gua peninggalan Jepang.

Daya tarik lainnya yang berada di TWA, baik yang berada di kawasan cagar alam darat maupun cagar alam laut, adalah Batu Layar, Cirengganis, Pantai Pasirputih di kawasan cagar alam laut. Lalu, padang pengembalaan Cikamal, yang merupakan areal padang rumput dan semak seluas 20 ha sebagai habitat banteng dan rusa. Air terjun yang berada di kawasan cagar alam bagian selatan, dapat ditempuh dengan jalan kaki selama 2 jam melalui jalan setapak.

Sejarah kawasan
Pada tahun 1922, seorang Belanda bernama Eyken membeli tanah pertanian di pananjung Pangandaran, kemudian memindahkan penduduk yang tinggal di daerah yang sekarang menjadi taman wisata alam. Selanjutnya daerah tersebut dikelola sebagai daerah perburuan pada tahun 1931.

Pada tahun 1934, daerah tersebut diresmikan menjadi sebuah wildreservaat dengan keputusan Statblad 1934 nomor 663. Tetapi dengan ditemukannya jenis-jenis tumbuhan penting, termasuk Raflesia patma pada tahun 1961, membuat statusnya diubah menjadi cagar alam, dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.34KMP/tahun 1961. Akhirnya pada 1978, karena adanya potensi yang dapat mendukung pengembangan pariwisata alam, sebagian wilayah cagar alam yang berbatasan dengan areal permukiman statusnya diubah menjadi taman wisata alam.

Tahun 1990 dikukuhkan pula kawasan perairan di sekitar cagar alam laut (470 ha), sehingga luas kawasan perairan di sekitar Pangandaran seluruhnya menjadi 1.500 ha. Perkembangan selanjutnya berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.104/kpts-II/1993, pengusahaan TWA Pangandaran diserahkan kepada Perum Perhutani dan diserahkan fisik pengelolaannya pada 1 November 1999.

TWA Pangandaran mempunyai banyak legenda, seperti legenda Gua Parat. Gua ini dulu tempat bertapa dan bersemedi beberapa pangeran dari Mesir, yaitu Pangeran Kesepuluh (Syekh Ahmad), Pangeran Kanoman (Syekh Muhammad), Pangeran Maja Agung, dan Pangeran Raja Sumenda. Di dalam gua ini terdapat dua kuburan sebagai tanda bahwa di tempat inilah Syekh Ahmad dan Muhamad menghilang (tilem).

Gua Panggung
Menurut cerita, yang berdiam digua ini adalah Embah Jaga Lautan atau disebut pula Kiai Pancing Benar. Beliau merupakan anak angkat dari Dewi Loro Kidul dan ibunya menugaskan untuk menjaga lautan di daerah Jabar dan menjaga pantai Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, beliau disebut Embah Jaga Lautan.

Gua Lanang
Gua ini dulunya merupakan keraton pertama Kerajaan Galuh. Sedangkan keraton yang kedua terdapat di Karang Kamulyan Ciamis. Raja Galuh adalah laki-laki (lanang) yang sedang berkelana.

Batu Kalde atau Sapi Gumarang
Di tempat ini, menurut cerita, tinggal seorang sakti yang dapat menjelma menjadi seekor sapi yang gagah berani dan sakti. Sapi Gumarang adalah nakhoda kapal.

Cirengganis
Cerita ini berawal dari adanya sebuah pemandian berupa sungai kepunyaan seorang raja bernama Raja Mantri. Pada suatu hari, Raja Mantri pergi untuk melihat-lihat pemandiannya.

Kebetulan waktu itu Dewi Rangganis dan para inangnya sedang mandi. Karena terdorong oleh perasaan hatinya, Raja Mantri mengambil pakaian Dewi Rangganis. Karena kesal, Dewi Rangganis kemudian berkata, barang siapa menemukan bajunya, bila perempuan akan dijadikan saudara dan bila laki-laki akan dijadikan suami.

Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam Pangandaran semula merupakan tempat perladangan penduduk. Tahun 1922, ketika Y. Eycken menjabat Residen Priangan, diusulkan menjadi Taman Buru. Pada waktu itu dilepaskan seekor Banteng, 3 ekor Sapi Betina dan beberapa ekor rusa. Karena memiliki keanekaragam satwa yang unik dan khas serta perlu dijaga habitat dan kelangsungan hidupnya maka pada tahun 1934, status kawasan tersebut diubah menjadi Suaka Margasatwa dengan luas 530 ha.

Tahun 1961, setelah ditemukan bunga Raflesia Fatma yang langka, statusnya diubah lagi menjadi Cagar Alam. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan tempat rekreasi, maka pada tahun 1978, sebagian kawasan tersebut (37,70 ha) dijadikan Taman Wisata. Pada tahun 1990 dikukuhkan kawasan perairan di sekitarnya sebagai Cagar Alam Laut (470 ha), sehingga luas seluruhnya menjadi 1.000 ha.

Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 104/Kpts-II/1993 pengusahaan wisata TWA Pangandaran diserahkan dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam kepada Perum Perhutani. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan di kawasan konservasi Pangandaran dan sekitarnya adalah: lintas alam, bersepeda, berenang, bersampan, scuba diving, snorking dan melihat peninggalan sejarah.

Cagar alam seluar ± 530 hektar, yang diantaranya termasuk wisata seluas 37,70 hektar berada dalam pengelolaan SBKSDA Jawa Barat II. Memiliki berbagai flora dan fauna langka seperti Bunga Raflesia Padma, Banteng, Rusa dan berbagai jenis Kera. Selain itu, terdapat pula gua-gua alam dan gua buatan seperti: Gua Panggung, Gua Parat, Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, gua Jepang serta sumber air Rengganis dan Pantai Pasir Putih dengan Taman Lautnya. Untuk Taman Wisata Alam (TWA) dikelola Perum Perhutani Ciamis. wisatapantaipangandaran.wordpress.com (Sumber : http://www.mypangandaran.com)